Ahadiyah dan Wahidiyah


قل هو الله أحد (QS. Al Ikhlas :1)
وإلهكم إله واحد (QS. Al Baqoroh :163)
Beberapa waktu lalu diungkapkan dalam makesta IPNU IPPNU PAC Salaman di mts Al Huda Kaliabu tentang terma ahad dan wahid sebagai sebuah redaksi pemaknaan kata Esa.
Dalam al quran digunakan dua bentuk kata yang berbeda (walaupun berasal dari akar kata yang sama) untuk menunjukkan kata Esa yaitu ahad (أحد) dan wahid (واحد). Tentunya ada perbedaan makna juga dalam kedua terma Esa tersebut (tidak ada sinonimitas dalam alquran). Di sini akan coba kami kemukakan perbedaan antara ahad dan wahid tersebut.
Permasalahan konsep tawhid kontemporer adalah antara tawhid ekslusif dan tawhid inklusif. Ahad sebagai basis teologi ekslusif adalah tidak terbilang dan tidak berbilang bilang sedang wahid sebagai basis teologi inklusif adalah terbilang tetapi tidak berbilang bilang.
Dalam tafsir al misbah (volume 15 halaman 609-610) dikatakan bahwa ahad dalam al ihklas tersebut berfungsi sebagai sifat (ahad bisa berfungsi sebagai nama dan sifat) dalam arti Allah memiliki sifat tersendiri yang tidak dimiliki oleh selain-Nya (Karakteristik Allah). Dari segi bahasa ahad hanya digunakan untuk sesuatu yang tidak dapat menerima penambahan baik dalam benak maupun kenyataannya sedangkan wahid, kita dapat menambahnya sehingga menjadi dua, tiga dan seterusnya walaupun penambahan itu hanya dalam benak pengucap atau pendengarnya.
Dalam literatur lain Dr Waryani Fajar Riyanto menyatakan bahwa sifat ahadiyah (Esa) Allah terletak pada Muqtadayat al Uluhiyyah (karakteristik/kriteria Tuhan) yaitu as Sabq (la awwala lahu), as Sarmadiyyah (la akhiro lahu), al Itlaq (la mahduda lahu/tidak terbatasi), dan az Zatiyyah (la yu’lama lahu/tidak ada yang mengajarinya) dimana hanya Ia sajalah yang memilikinya. Jadi jika ada dzat tetapi tidak memenuhi 4 kriteria tersebut, maka dzat tersebut tidak pantas disebut Tuhan dan tidak pantas untuk disembah.
Sedang wahid (tunggal) terletak pada asma-asma dan sifat-sifat Allah karena terbilang 1,2,3 sampai 99 nama begitu juga sifatnya terbilang namun yang memilikinya tetap satu dan tunggal (tidak berbilang bilang).
Dalam al misbah di katakan bahwa “sementara ulama berpendapat bahwa kata wahid pada QS. Al Baqarah :163 tersebut menunjukkan kepada keesaan Dzatnya disertai dengan keragaman sifat-sifatNya, bukankah Dia Maha Pengasih, Maha Penyayang, Maha Kuat, Maha Tahu dan sebagainya.”
Sifat Ahad dan Wahid dapat dimiliki oleh siapapun. Sebagai permisalan sifat ahad si fulan terletak pada sidik jari dan retina matanya, di mana sidik jari dan retina mata si fulan adalah karakteristik si fulan yang mana hanya dia yang memiliki. Sedang sifat wahid si fulan adalah ketika dia menjadi anak dari bapaknya, kakak dari adiknya, adik dari kakaknya, ponakan dari pamannya dan sebagainya yang mana itu juga menunjukkan bahwa dia adalah si fulan. Begitu juga ia memiliki sifat ramah, baik hati, jujur, murah senyum dan seterusnya sifatnya berbilang bilang namun tetap satu yaitu si fulan.
Sifat Ahadiyyah atau karakteristik Tuhan disebut muqtadayat al uluhiyyah, ahadiyyah nabi disebut khoshois, dan ahadiyyah wali disebut simat dan salah satu ciri simat adalah mahfudz (terpelihara). Jika ranah wahid kita bawa ke wahidnya islam, maka diartikan bahwa islam itu tetap satu tetapi ia bisa berposisi di banyak tempat. Jika islam diposisikan di tengah segitiga, maka posisinya bisa berhubungan dengan Tuhan, manusia, dan alam sebagaimana di sinyalir dalam sebuah ayat “innii jaa’ilun fil ardhi kholiifah” di mana sang Ja’il adalah Allah, ardh sebagai simbol alam, dan khalifah adalah manusia. Dengan demikian teologi inklusifisme dalam islam bermakna hubungan antara islam dengan Tuhan (teologi teosentris), islam dengan alam (teologi kosmosentris), dan islam dengan manusia (teologi antroposentris).

Sumber :
-          Riyanto, Waryani Fajar, Teologi Sufi Tauhid Integratif Ekslusivisme dan Inklusivisme, Jogjakarta: MahameruPress, 2010

-          Shihab, M.Quroish, Tafsir Al-Mishbah Volume 15, Jakarta: Lentera Hati, 2006

Demikian sedikit coretan dalam rangka muthola’ah dan nostalgia dalam sistematika penulisan karya ilmiah yang dalam hal ini skripsi 5 tahun silam. Semoga bermanfaat khususnya bagi penulis yang masih mencoba mengingat kembali sistem penulisan yang baku sesuai pakem. Kritik dan saran sangat diharapkan dalam rangka membangun baik untuk sistematika sendiri ataupun dalam isinya. Terimakasih jazakumullah khoirol jaza

Komentar

Postingan populer dari blog ini

THORIQOH

Ki Tanu Metir