THORIQOH
NAMA-NAMA TAREKAT MU'TABAROH
1.
Rumiyyah
Didirikan oleh
Ismail al-Rumi (W.1041 H./1631 M) di Istambul dan dimakamkan di ribath yang
didirikannya di Top-khaneh. Dia merupakan penyebar tarekat Qadiriyah yang utama
di Turki.
2.
Rifaiyyah
Mu’assis Thoriqoh Rifa’iyah adalah Seorang Wali
Agung Syaikh Abu Abas Ahmad bin Ali bin Ahmad bin Yahya bin Hazim Ar-Rifa
’i Dijuluki dengan Muhiyyudin dan Sayyid al- ‘arifin (penghulu para ‘arif).
Berasal dari Maghribi dan terlahir di Bathaih yang kemudian menjadi tempat
tinggalnya (Sayid Ahmad
Ar-Rifa’i radliallahu ‘anhu (512-578 H)). Beliau telah meletakkan dasar-dasar
yang kuat dan prinsip-prinsip yang kokoh untuk thoriqoh yang mubarokah, yaitu
ajakan untuk beriman dan mengikuti sunnah Rasul Allah, menjaga rukun Islam,
berpegang pada keutamaan-keutamaan dan menjauhi hal-hal yang hina (sifat dan
perilaku yang nista).
Diantara nasehat-nasehatnya yang terkenal
antara lain:
“Hendaklah kalian berdzikir pada Alllah SWT.,
karena dzikrullah itu adalah magnet-magnet penghubung dan tali untuk
mendekatkan diri kepada-Nya. Barang siapa yang
berdzikir pada Allah SWT. maka ia akan merasa aman dengan Allah dan pasti akan
bisa sampai kepadanya.”
“Tasawwuf adalah berpaling dari selain Allah SWT., tidak sibuk berfikir
tentang dzat Allah dan hanya berserah diri kepada Allah SWT.
3.
Sa’diyyah
Didirikan oleh seich sa’duddin
jibawi. Berkembang di daerah Damakus Irak.
4.
Bakriyyah
Didirikan oleh
Abu Bakar Wafa`I berkembang pesat di Aleppo Syuriah
5.
Justiyyah
6.
Umariyyah
7.
Alawiyyah
Thoriqoh
Alawiyyah berbeda dengan Thoriqoh sufi lain pada umumnya. Perbedaan itu,
misalnya, terletak dari praktiknya yang tidak menekankan segi-segi riyadlah
(olah ruhani) yang berat, melainkan lebih menekankan pada amal, akhlak, dan
beberapa wirid serta dzikir ringan. Sehingga wirid dan dzikir ini dapat dengan
mudah dipraktikkan oleh siapa saja meski tanpa dibimbing oleh seorang mursyid.
Ada dua wirid yang diajarkannya, yakni Wirid Al-Lathif dan Ratib
Al-Haddad.serta beberapa ratib lainnya seperti Ratib Al Attas dan Alaydrus juga
dapat dikatakan, bahwa Thoriqoh ini merupakan jalan tengah antara Thoriqoh
Syadziliyah (yang menekankan olah hati) dan batiniah) dan Thoriqoh Al-
Ghazaliyah (yang menekankan olah fisik). Thoriqoh ini berasal dari Hadhramaut,
Yaman Selatan dan tersebar hingga ke berbagai negara, seperti Afrika, India,
dan Asia Tenggara (termasuk Indonesia). Thoriqoh ini didirikan oleh Imam Ahmad
bin Isa al- Muhajir-lengkapnya Imam Alawi bin Ubaidillah bin Ahmad al- Muhajir-seorang
tokoh sufi terkemuka asal Hadhramat. Al Imam Faqihil Muqaddam Muhammad bin Ali
Baalwi, juga merupakan tokoh kunci Thoriqoh ini. Dalam perkembangannya
kemudian, Thoriqoh Alawiyyah dikenal juga dengan Thoriqoh Haddadiyah, yang
dinisbatkan kepada Habib Abdullah al-Haddad, Attasiyah yang dinisbatkan kepada
Habib Umar bin Abdulrahman Al Attas, serta Idrusiyah yang dinisbatkan kepada
Habib Abdullah bin Abi Bakar Alaydrus, selaku generasi penerusnya. Sementara
nama "Alawiyyah" berasal dari Imam Alawi bin Ubaidillah bin Ahmad al -Muhajir.
Thoriqoh Alawiyyah, secara umum, adalah Thoriqoh yang dikaitkan dengan kaum
Alawiyyin atau lebih dikenal sebagai saadah atau kaum sayyid - keturunan Nabi
Muhammad SAW yang merupakan lapisan paling atas dalam strata masyarakat Hadhrami.
Karena itu, pada masa-masa awal Thoriqoh ini didirikan, pengikut Thoriqoh
Alawiyyah kebanyakan dari kaum sayyid di Hadhramaut, atau Ba Alawi.Thoriqoh ini
dikenal pula sebagai Toriqotul abak wal ajdad, karena mata rantai silisilahnya turun
temurun dari kakek,ayah, ke anak anak mereka, dan setelah itu diikuti oleh
berbagai lapisan masyarakat muslim lain dari non-Hadhrami. Di Purworejo dan
sekitarnya Thoriqoh ini berkembang pesat, diikuti bukan hanya oleh para saadah melainkan
juga masarakat non saadah , Sayid Dahlan Baabud, tercatat sebagai pengembang
Thoriqoh ini, yang sekarang dilanjutkan oleh anak cucunya
8.
Abasiyyah
9.
Zainiyyah
Didirikan oleh seich Zainuddin berkembang pesat di Kufah, Irak
10.
Dasuqiyyah
11.
Akbariyyah
12.
Bayumiyyah
13.
Malamiyyah
14.
Ghoibiyyah
15.
Tijaniyyah
Thoriqoh
Tijaniyah didirikan oleh Abul Abbas Ahmad bin Muhammad bin al-Mukhtar at-Tijani
(1737-1815), salah seorang tokoh dari gerakan "Neosufisme". Ciri dari
gerakan ini ialah karena penolakannya terhadap sisi eksatik dan metafisis
sufisme dan lebih menyukai pengalaman secara ketat ketentuan-ketentuan syari'at
dan berupaya sekuat tenaga untuk menyatu dengan ruh Nabi Muhammad SAW sebagai
ganti untuk menyatu dengan Tuhan. At-Tijani dilahirkan pada tahun 1150/1737 di
'Ain Madi, bagian selatan Aljazair. Sejak umur tujuh tahun dia sudah dapat
menghafal al-Quran dan giat mempelajari ilmu-ilmu keislaman lain, sehingga pada
usianya yang masih muda dia sudah menjadi guru. Dia mulai bergaul dengan para sufi
pada usia 21 tahun. Pada tahun 1176, dia melanjutkan belajar ke Abyad untuk
beberapa tahun. Setelah itu, dia kembali ke tanah kelahirannya. Pada tahun
1181, dia meneruskan pengembaraan intelektualnya ke Tilimsan selama lima tahun.
Di Indonesia, Tijaniyah ditentang keras oleh Thoriqoh-Thoriqoh lain. Gugatan
keras dari kalangan ulama Thoriqoh itu dipicu oleh pernyataan bahwa para
pengikut Thoriqoh Tijaniyah beserta keturunannya sampai tujuh generasi akan
diperlakukan secara khusus pada hari kiamat, dan bahwa pahala yang diperoleh
dari pembacaan Shalawat Fatih, sama dengan membaca seluruh al-Quran sebanyak
1000 kali. Lebih dari itu, para pengikut Thoriqoh Tijaniyah diminta untuk
melepaskan afiliasinya dengan para guru Thoriqoh lain, Meski demikian, Thoriqoh
ini terus berkembang, utamanya di Buntet- Cirebon dan seputar Garut (Jawa
Barat), dan Jati barang brebes, Sjekh Ali Basalamah, dan kemudian dilanjutkan
putranya, Sjekh Muhammad Basalamah, adalah muqaddam Tijaniah di Jatibarang yang
pengajian rutinnya, dihadiri oleh puluhan ribu ummat Islam pengikut Tijaniah.
Demikian pula Madura dan ujung Timur pulau Jawa, tercatat juga, sebagai pusat
peredarannya. Penentangan terhadap Thoriqoh ini, mereda setelah, Jam'iyyah
Ahlith-Thariqah An-Nahdliyyah menetapkan keputusan, Thoriqoh ini bukanlah
Thoriqoh sesat, karena amalan-amalannya sesuai dan tidak bertentangan dengan
ajaran Islam. Keputusan itu diambil setelah para ulama ahli Thoriqoh memeriksa
wirid dan wadzifah Thoriqoh ini.
16.
Uwaisiyyah
17.
Idrisiyyah
18.
Samaniyyah
Thoriqah
Sammaniyah didirikan oleh Syekh Muhammad Samman yang bernama asli Muhammad bin
Abd al-Karim al-Samman al- Madani al-Qadiri al-Quraisyi dan lebih dikenal
dengan panggilan Samman. Beliau lahir di Madinah 1132 H/1718 M dan berasal dari
keluarga suku Quraisy. Semula ia belajar Thoriqoh Khalwatiyyah di Damaskus,
lama kelamaan ia mulai membuka pengajian yang berisi teknik dzikir, wirid dan
ajaran teosofi lainnya. Ia menyusun cara pendekatan diri dengan Allah yang
akhirnya disebut sebagai Thoriqoh Sammaniyah. Sehingga ada yang mengatakan
bahwa Thoriqoh Sammaniyah adalah cabang dari Khalwatiyyah. Di Indonesia,
Thoriqoh ini berkembang di Sumatera, Kalimantan dan Jawa. Sammaniyah masuk ke
Indonesia pada penghujung abad 18 yang banyak mendapatkan pengikut karena
popularitas Imam Samman. Sehingga manaqib Syekh Samman juga sering dibaca
berikut dzikir Ratib Samman yang dibaca dengan gerakan tertentu. Di Palembang
misalnya ada tiga ulama Thoriqoh yang pernah berguru langsung pada Syekh
Samman, ia adalah Syekh Abd Shamad, Syekh Muhammad Muhyiddin bin Syekh
Syihabuddin dan Syekh Kemas Muhammad bin Ahmad. Di Aceh juga terkenal apa yang
disebut Ratib Samman yang selalu dibaca sebagai dzikir
19.
Buhuriyyah
20.
Usyaqiyyah
21.
Kubrowiyyah
22.
Maulawiyyah
23.
Jalwatiyyah
24.
Baerumiyyah
25.
Ghozaliyyah
26.
Hamzawiyyah
27.
Haddadiyyah
28.
Matbuliyyah
29.
Sumbuliyyah
30.
‘Idrusiyyah
31.
Utsmaniyyah
32.
Syadliliyyah
Abul
Hasan Ali asy-Sadzili, merupakan tokoh Thoriqoh Sadziliyah yang tidak
meninggalkan karya tulis di bidang tasawuf, begitu juga muridnya, Abul Abbas
al-Mursi, kecuali hanya ajaran lisan tasawuf, Doa, dan hizib. Ketika ditanya
akan hal itu, ia menegaskan :"karyaku adalah murid muridku", Asadzili
mempunyai murid yang amat banyak dan kebanyakan mereka adalah ulama ulama
masyhur pada zamannya, dan bahkan dikenal dan dibaca karya tulisnya hingga hari
ini. Ibn Atha'illah as -Sukandari adalah orang yang pertama menghimpun
ajaranajaran, pesan-pesan, doa dan biografi keduanya, sehingga kasanah Thoriqoh
Sadziliyah tetap terpelihara. Ibn Atha'illah juga orang yang pertama kali
menyusun karya paripurna tentang aturan-aturan Thoriqoh Sadziliah,
pokok-pokoknya, prinsipprinsipnya, yang menjadi rujukan bagi angkatan-angkatan
setelahnya. Sebagai ajaran, Thoriqoh ini dipengaruhi oleh al- Ghazali dan
al-Makki. Salah satu perkataan as-Sadzili kepada murid-muridnya: "Jika
kalian mengajukan suatu permohonanan kepada Allah, maka sampaikanlah lewat Abu
Hamid al-Ghazali". Perkataan yang lainnya: "Kitab Ihya' Ulum ad-Din,
karya al- Ghozali, mewarisi anda ilmu. Sementara Qut al-Qulub, karya al- Makki,
mewarisi anda cahaya." Selain kedua kitab tersebut, al- Muhasibi, Khatam
al-Auliya, karya Hakim at-Tarmidzi, Al-Mawaqif wa al-Mukhatabah karya
An-Niffari, Asy-Syifa karya Qadhi 'Iyad, Ar-Risalah karya al-Qusyairi,
Al-Muharrar al-Wajiz karya Ibn Atah'illah. Thoriqoh Sadzaliah berkembang pesat
di Jawa, tercatat Ponpes Mangkuyudan Solo, Kyai Umar , Simbah Kyai Dalhar
Watucongol, Simbah Kyai Abdul malik Kedongparo Purwokerto, KH Muhaiminan
Parakan, KH. Abdul Jalil Tulung Agung. KH . Habib Lutfi Bin Yahya, Pekalongan
.Simbah KH.M.Idris, kacangan Boyolali, adalah pemuka pemuka Sadzaliah yang telah
membaiat dan membina ratusan ribu bahkan jutaan murid Sadziliah.
33.
Sya’baniyyah
34.
Kalsyaniyyah
35.
Khodliriyyah
36.
Syathoriyyah
Thoriqoh
Syathariyah pertama kali digagas oleh Abdullah Syathar (w.1429 M). Thoriqoh
Syathariyah berkembang luas ke Tanah Suci (Mekah dan Medinah) dibawa oleh Syekh
Ahmad Al-Qusyasi (w.1661/1082) dan Syekh Ibrahim al-Kurani (w.1689/1101). Dan
dua ulama ini diteruskan oleh Syekh 'Abd al-Rauf al-Sinkili ke Nusantara,
kemudian dikembangkan oleh muridnya Syekh Burhan al-Din ke Minangkabau.
Thoriqoh Syathariyah sesudah Syekh Burhan al-Din, berkembang pada 4 (empat)
kelompok, yaitu; Pertama silsilah yang diterima dari Imam Maulana. Kedua,
silsilah yang dibuat oleh Tuan Kuning Syahril Lutan Tanjung Medan Ulakan. Ketiga,
silsilah yang diterima oleh Tuanku Ali Bakri di Sikabu Ulakan. Keempat;
silsilah oleh Tuanku Kuning Zubir yang ditulis dalam Kitabnya yang berjudul
Syifa' al-Qulub. Thoriqoh ini berkembang di Minangkabau dan sekitarnya. Untuk
mendukung ke1embagaan Thoriqoh, kaum Syathariyah membuat lembaga formal berupa
organisasi social keagamaan Jama'ah Syathariyah Sumatera Barat, dengan cabang
dan ranting-ranting di seluruh alam Minangkabau, bahkan di propinsi-tetangga
Riau dan jambi. Bukti kuat dan kokohnya kelembagaan Thoriqoh Syathariyah dapat
ditemukan wujudnya pada kegiatan ziarah bersama ke makam Syekh Burhan al-Din
Ulakan.
37.
Khalwatiyyah
Umumnya,
nama sebuah Thoriqoh diambil dari nama sang pendiri Thoriqoh bersangkutan,
seperti Qadiriyah dari Syekh Abdul Qadir Al-Jailani atau Naqsyabandiyah dari
Baha Uddin Naqsyaband. Tapi Thoriqoh Khalwatiyah justru diambil dari kata
"khalwat", yang artinya menyendiri untuk merenung. Diambilnya nama
ini dikarenakan seringnya Syekh Muhammad Al-Khalwati (w. 717 H), pendiri Thoriqoh
Khalwatiyah, melakukan khalwat di tempat-tempat sepi. Secara
"nasabiyah", Thoriqoh Khalwatiyah merupakan cabang dari Thoriqoh
Az-Zahidiyah, cabang dari Al- Abhariyah, dan cabang dari As-Suhrawardiyah, yang
didirikan oleh Syekh Syihabuddin Abi Hafs Umar as-Suhrawardi al-Baghdadi
(539-632 H). Thoriqoh Khalwatiyah berkembang secara luas di Mesir. Ia dibawa
oleh Musthafa al-Bakri (lengkapnya Musthafa bin Kamaluddin bin Ali al-Bakri
as-Shiddiqi), seorang penyair sufi asal Damaskus, Syiria. Ia mengambil Thoriqoh
tersebut dari gurunya yang bernama Syekh Abdul Latif bin Syekh Husamuddin
al-Halabi. Karena pesatnya perkembangan Thoriqoh ini di Mesir, tak heran jika
Musthafa al-Bakri dianggap sebagai pemikir Khalwatiyah oleh para pengikutnya.
Karena selain aktif menyebarkan ajaran Khalwatiyah ia juga banyak melahirkan
karya sastra sufistik. Diantara karyanya yang paling terkenal adalah Tasliyat
Al-Ahzan (Pelipur Duka).
38.
Bakdasiyyah
39.
Syuhrowardiyyah
Thariqat
Suhrawardiyah yang didirikan oleh Abu Najib al-Suhrawardi (490-565 H.)
40.
Thoriqoh Ahmadiyyah
Ahmadiyah
didirikan oleh Ahmad ibn 'Aly (al-Husainy al-Badawy). Diantara nama-nama
gelaran yang telah diberikan kepada beliau ialah Syihabuddin, al-Aqthab, Abu
al-Fityah, Syaikh al-'Arab dan al-Quthab an-Nabawy. Malah, asy-Syaikh Ahmad
al-Badawy telah diberikan nama gelar (laqab) yang banyak, sampai dua puluh
sembilan nama. Al-Ghautha al-Kabir, al-Quthab al-Syahir, Shahibul-Barakat
wal-Karamat, asy-Syaikh Ahmad al-Badawy adalah seorang lelaki keturunan Rasulullah
SallAllahu 'alaihi wa sallam, melalui Sayidina al-Husain. Sholawat Badawiyah
sughro dan Kubro, adalah sholawat yang amat dikenal masarakat Indonesia,
dinisbatkan kepada waliyullah Sayid Ahmad Badawi ini, akan tetapi Tarekat badawiyah
sendiri tidak berkembang secara luas di indonesia khususnya di Jawa
41.
‘Isawiyyah Ghorbiyyah
42.
Turuqi Akabiril – Auliyyak
43.
Qodiriyyah wa-Naqsyabandiyyah
Thoriqoh
Qodiriyah dinisbahkan kepada Syekh Abdul Qodir Jaelani (wafat 561 H/1166M) yang
bernama lengkap Muhy al-Din Abu Muhammad Abdul Qodir ibn Abi Shalih Zango Dost
al-Jaelani. Lahir di Jilan tahun 470 H/1077 M dan wafat di Baghdad pada 561
H/1166 M. Dalam usia 8 tahun ia sudah meninggalkan Jilan menuju Baghdad pada
tahun 488 H/1095 M. Riwayat hidup dan keutamaan akhlak (Manaqib) Syech Abdul
Qodir Jaelani ini, dikenal luas oleh masarakat Indonesia khususnya di Jawa
Tengah dan Jawa Timur, dan dibaca dalam acara-acara tertentu guna tabarruk dan
tawassul kepada Syekh Abdul Qodir. Thoriqoh Qodiriyah terus berkembang dan
berpusat di Iraq dan Syria yang diikuti oleh jutaan umat yang tersebar di
Yaman, Turki, Mesir, India, Afrika dan Asia. Namun meski sudah berkembang sejak
abad ke-13, Thoriqoh ini baru terkenal di dunia pada abad ke 15 M. Di India
misalnya baru berkembang setelah Muhammad Ghawsh (w 1517 M) juga mengaku
keturunan Syekh Abdul Qodir Jaelani. Di Turki oleh Ismail Rumi (w 1041 H/1631
M) yang diberi gelar (mursyid kedua). Sedangkan di Makkah, Thoriqoh Qodiriyah
sudah berdiri sejak 1180 H/1669 M. Thoriqoh Qodiriyah ini dikenal luwes. Yaitu
bila murid sudah mencapai derajat syekh, maka murid tidak mempunyai suatu
keharusan untuk terus mengikuti Thoriqoh gurunya. Bahkan dia berhak melakukan
modifikasi Thoriqoh yang lain ke dalam Thoriqohnya. Hal itu seperti tampak pada
ungkapan Syekh Abdul Qadir Jaelani sendiri,"Bahwa murid yang sudah
mencapai derajat gurunya, maka dia jadi mandiri sebagai syekh dan Allah-lah
yang menjadi walinya untuk seterusnya." Seperti halnya Thoriqoh di Timur
Tengah. Sejarah Thoriqoh Qodiriyah di Indonesia juga berasal dari Makkah al-
Mukarromah. Thoriqoh Qodiriyah menyebar ke Indonesia pada abad ke-16, khususnya
di seluruh Jawa, seperti di Pesantren Pegentongan Bogor Jawa Barat, Suryalaya
Tasikmalaya Jawa Barat, Mranggen Jawa Tengah, Rejoso Jombang Jawa Timur dan
Pesantren Tebuireng Jombang Jawa Timur. Syekh Abdul Karim dari Banten adalah
murid kesayangan Syekh Khatib Sambas yang bermukim di Makkah, merupakan ulama
paling berjasa dalam penyebaran Thoriqoh Qodiriyah. Murid-murid Syekh Sambas
yang berasal dari Jawa dan Madura, setelah pulang ke Indonesia menjadi penyebar
Thoriqoh Qodiriyah tersebut.
Di
Jawa Tengah Thoriqoh Qadiriyyah wa Naqsabandiyyah muncul dan berkembang antara
lain dari Mbah Ibrahim Brumbung Mranggen diturunkan kepada antara lain KH.
Muslih pendiri Ponpes Futuhiyyah ,Mranggen. Dari Kyai Muslih ini lahir
murid-murid Thoriqoh yang banyak. Dan dari tangan mereka berkembang menjadi
ratusan ribu pengikut. Demikian pula halnya Simbah Kyai Siradj Solo yang
mengembangkan Thoriqoh ini ke berbagai tempat melalui anak muridnya yang
tersebar ke pelosok Jawa
Tengah
hingga mencapai puluhan ribu pengikut. Sementara di Jawa Timur, Thoriqoh ini
dikembangkan oleh KH. Musta'in Romli Rejoso Jombang dan Simbah Kyai Utsman yang
kemudian dilanjutnya putra-putranya diantaranya KH. Asrori yang juga mempunyai
murid ratusan ribu. Di Jawa Barat tepatnya di Ponpes Suryalaya Tasikmalaya juga
turut andil membesarkan Thoriqoh ini sejak mulai zaman Abah Sepuh hingga Abah
Anom dan muridmuridnya yang tersebar di berbagai penjuru Jawa Barat.
44.
Kholidiyyah wa-Naqsyabandiyyah
Thoriqoh
Naqsyabandiyah masuk ke Nusantara dan Minangkabau pada tahun 1850. Thoriqoh
Naqsyabandiyah sudah masuk ke Minangkabau sejak abad ke 17, pintu masuknya
me1alui daerah Pesisir Pariaman, kemudian terus ke Agam dan Limapuluh kota.
Thoriqoh Naqsyabandiyah diperkenalkan ke wilayah ini pada paruh pertama abad
ketujuh belas oleh Jamal al-Din, seorang Minangkabau yang mula-mula belajar di
Pasai sebelum dia melanjukan ke Bayt al-Faqih, Aden, Haramain, Mesir dan India.
Naqsyabandiyah merupakan salah satu Thoriqoh sufi yang paling luas
penyebarannya, dan terdapat banyak di wilayah Asia Muslim serta Turki,
Bosnia-Herzegovina, dan wilayah Volga Ural. Bermula di Bukhara pada akhir abad
ke-14, Naqsyabandiyah mulai menyebar ke daerah-daerah tetangga dunia Muslim
dalam waktu seratus tahun. Perluasannya mendapat dorongan baru dengan munculnya
cabang Mujaddidiyah, dinamai menurut nama Syekh Ahmad Sirhindi Mujaddidi Alfi
Tsani (Pembaru Milenium kedua, w. 1624). Pada akhir abad ke-18, nama ini hampir
sinonim dengan Thoriqoh tersebut di seluruh Asia Selatan, wilayah Utsmaniyah,
dan sebagian besar Asia Tengah. Ciri yang menonjol dari Thoriqoh Naqsyabandiyah
adalah diikutinya syari'at secara ketat, keseriusan dalam beribadah menyebabkan
penolakan terhadap musik dan tari, serta lebih mengutamakan berdzikir dalam
hati (Sirri). Penyebaran Thoriqoh Naqsyabandiyah Khalidiyah ditunjang oleh
ulama ulama Minangkabau yang menuntut ilmu di Mekah dan Medinah, mereka
mendapat bai'ah dari Syekh Jabal Qubays di Mekah dan Syekh Muhammad Ridwan di
Medinah. Misalnya, Syekh Abdurrahman di Batu Hampar Payakumbuh (w. 1899 M),
Syekh Ibrahim Kumpulan Lubuk Sikaping, Syekh Khatib Ali Padang (w. 1936), dan
Syekh Muhammad Sai'd Bonjol. Mereka adalah ulama besar dan berpengaruh pada
zamannya serta mempunyai anak murid mencapai ratusan ribu, yang kemudian turut
menyebarkan Thoriqoh ini ke daerah asal masing masing Di Jawa Tengah Thoriqoh
Naqsabandiyah Kholidiyyah disebarkan oleh KH. Abdul Hadi Girikusumo Mranggen
yang kemudian menyebar ke Popongan Klaten, KH. Arwani Amin Kudus, KH. Abdullah
Salam Kajen Margoyoso Pati, KH. Hafidh Rembang. Dari dari tangan mereka yang
penuh berkah, pengikut Thoriqoh ini berkembang menjadi ratusan ribu. Ajaran
dasar Thoriqoh Naqsyabandiyah pada umumnya
mengacu kepada empat aspek pokok yaitu: syari'at, thariqat, hakikat dan
ma'rifat. Ajaran Thoriqoh Naqsyabandiyah ini pada prinsipnya adalah cara-cara
atau jalan yang harus dilakukan oleh seseorang yang ingin merasakan nikmatnya
dekat dengan Allah. Ajaran yang nampak ke permukaan dan memiliki tata aturan
adalah khalwat atau suluk. Khalwat ialah mengasingkan diri dari keramaian atau
ke tempat yang terpencil, guna melakukan zikir dibawah bimbingan seorang Syekh
atau khalifahnya, selama waktu 10 hari atau 20 hari dan sempurnanya adalah 40
hari. Tata cara khalwat ditentukan oleh syekh antara lain; tidak boleh makan
daging, ini berlaku setelah melewati masa suluk 20 hari. Begitu juga dilarang
bergaul dengan suami atau istri; makan dan minumnya diatur sedemikian rupa,
kalau mungkin sesedikit mungkin. Waktu dan semua pikirannya sepenuhnya
diarahkan untuk berpikir yang telah ditentukan oleh syekh atau khalifah..
45.
Haqqaniah wa Naqsyabandiyah
46.
Ahli Muzalamatil-Qur’an
was-SunnahWadaailil Khoiroti Wata’limi-Fathil Qoribi Au-Kifayatul-Awami.
Keterangan
Nama-nama Thoriqoh yang terdapat
dalam kitab ini antara lain :
1.
Ar-Rosyahat
2.
An-Nafahat
3.
At-Tajiyah
4.
Al-Khodimi
5.
Al-Khitoob
6.
Al-Ghunbah
7.
Al-Manaqib
8.
Bahjatul Asror
9.
Nadhatul-Qudsi
10.
Futuhatul-Ghoib
11.
Qolaidul Jawahir
12.
Miftahul-Ma’iyyah
13.
Al-Ghautsiyah
14.
Ar-Risalatul Qudsiyah
15.
Maktubatul-Imam Ar-Robbani
16.
Majmu’aturrosail ‘ala
Ushulil-Kholidiyah
17.
Dan lain-lain
Nama-nama Thoriqoh tersebut
dinamakan Mu’tabaroh, sebab muttashil (tersambung) sanaduha bi Rosulillah SAW.
Dan ajarannya diatur dalam kitab masing-masing.
Demikian tulisan ini, tentu masih banyak kekurangan, kiranya pembaca bersedia memberikan saran dan penyempurnaan sebagai sarana diskusi.

Komentar
Posting Komentar